Kerugian Negara Akibat KKN di Sektor Migas

Di tengah jeritan kesengsaraan rakyat dan di era reformasi ini, seharusnya kita segera menuntaskan amanat rakyat??? Terlebih, terhadap sektor2 potensial yang menyangkut hajat hidup orang banyak seperti  minyak dan gas bumi. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya, korupsi makin menggila??? yang paling membingungkan adalah, pemerintah mengatakan bahwa dengan harga minyak mentah dunia 120 USD per barel, maka uang yang harus di keluarkan pemerintah untuk rakyatnya adalah Rp 260 triliun. Dapat kita bayangkan jumlah uang sebanyak itu??? jika kita pukul rata 250 juta penduduk indonesia, maka masing2 jiwa akan mendapat bagian Rp 1,04 miliar ??? kalau 70% kebutuhan minyak kita produksi sendiri!!! masuk akalkah itu???

Minyak dan gas bumi adalah sumber terbesar pendapatan negara, karena itu sektor ini seharusnya di kelola secara transparan dengan penuh tanggung jawab??? akan tetapi, sampai saat ini sektor migas merupakan masalah yang begitu ” Ghaib” karena di samping jadi ladang minyak dan gas bumi, juga merupakan tempat raibnya harta rakyat ratusan triliun rupiah per tahun???.

Minyak yang di gali dari perut bumi kita itu, hanya sebesar 56% yang kita dapat dan 46% adalah milik orang asing di tambah mark-up dan KKN yang terjadi dalam Cost recovery. Jika kurs ruiah Rp 9.300 per USD dan jika produksi rat2 minyak kita ( APBN ) = 1juta x 159 x Rp 9.300 = Rp 1,5 triliun per hari, maka para KKKS ( Kontraktor asing dan pertamina ) selalu berpesta dengan uang Rp 690 milyar per hari atau Rp 250 trliun per tahun.

Perpres 71/2005 yang mengatur harga patokan minyak itu selalu mengacu pada MOPS ( Mid Oil Platt’s Singapore ) yaitu harga minyak di bursa singapore. Bagaimana mungkin negeri yang menghasilkan minyak dapat mengacu pada MOPS negara yang tidak menghasilkan minyak??? Harus ada pengusutan terhadap timbul perpres 71 tahun 2005!!!

Karena itu supaya harga minya kita sendiri  tidak terlalu mahal, maka dalih pemerintah dengan menerbitkan perpres 55 tahun 2005 dan keluarlah peraturan harga eceran atu harga subsidi minyak ( bensin Rp 4.500, solar Rp 4.300 ) tanpa dasar yang jelas dan dari selisih kedua harga yang di buatnya sendiri. Maka kemudian pemerintah saat itu mengatakan telah mengeluarkan uang untuk membayar subsidi kepada rakyatnya, sungguh aneh tapi nyata??

Bahwa dengan demikian kita harus membeli minyak kita sendiri ( 70 % ) yang di gabung dengan minyak import ( 30 % ) dengan harga subsidi tersebut. Untuk bensin misalnya yang membutuhkan biaya produksi 10 USD per barel = Rp 600 per liter dan kita harus membelinya dengan harga Rp 4500, aturan semacam itu telah berlangsung lama jauh sebelum harga minyak menembus angka 120 USD seperti saat ini. Bahkan sekarang pemerintah menaikkan harga bnsin jadi Rp. 6.000 per liter, juga tanpa perhitungan yang jelas dan transparan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s