‘Banyak rantai telekomunikasi jatuh ke asing’

Saya bersyukur dan bangga, ternyata masih ada pejabat negara yang berfikir akan kemandirian bangsa dan negara. Saya pikir sikap pejabat negara seperti ini yang harus di dukung oleh semua komponen bangsa, sudah saatnya mengangkat paras wajah bangsa ini dengan tegak dan memandang ke depan demi teciptanya kemakmuran rakyat.

Betapa gembiranya hari ini saya melihat berita di surat kabar yang akhir – akhir ini hanya di ramaikan oleh kepentingan politik praktis, berikut kutipan surat kabar Bisnis Indonesia.

JAKARTA: Industri telekomunikasi di Indonesia dinilai belum maksimal memberi efek berantai bagi ekonomi domestik, karena banyak rantai produksi jatuh kepada pihak asing. Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar menyatakan kedua hal itu menyusul berkembangnya pendapat sebagian masyarakat yang menilai kebijakan Depkominfo tidak memberi kepastian asing berinvestasi di Indonesia.

“Industri telekomunikasi masih dangkal karena kita hanya menjadi konsumen dan banyak rantai produksi jatuh di impor,” ujarnya belum lama ini.

Kenyataan itu, paparnya, membuat Ditjen Postel mulai menggunakan posisi tawar kekuatan pasar kepada asing yang ingin berivestasi di sektor telekomunikasi. “Di manufaktur misalnya, Anda boleh impor tetapi harap membuat di sini.”

Basuki menjelaskan dari sisi efek berantai yang disumbang telekomunikasi setiap 1% investasi telekomunikasi hanya memberi efek sebesar 1,8%, padahal di luar negeri pengaruhnya bisa mencapai 3%.

Peringkat kepemilikan asing di operator telekomunikasi di RI
Operator Porsi Asing
Hutchison CPT 100 %
XL 99,8 %
Natrindo (NTS) 95 %
Sampoerna (STI) 75 %
Indosat 40 %
Telkomsel 35 %

Sumber : dari berbagai sumber

“Wajar saja jika di negara seperti China yang sudah mempunyai Huawei dan ZTE, telekomu-nikasi di sana menjadi murah,” tegasnya.

Saat disinggung mengenai latar belakang kebijakan daftar negatif investasi dalam menara telekomunikasi, Basuki mengatakan pihaknya telah mengajukan itu kepada Menko Perekonomian sebanyak dua kali. Itu dilakukan karena DNI (daftar negatif investasi) yang sekarang baru menyangkut telepon kabel.

“Ini justru agar perubahan tidak menimbulkan kepanikan. Di WTO pun mereka juga berusaha melindungi pasarnya. Kondisi ini lebih karena azas kemandirian dan juga memberi kepastian hukum,” ujar Basuki.

Dengan berbagai pertimbangan itu pula ma-ka pemerintah juga tidak dapat menyerahkan program telepon perdesaan atau universal service obligation sepenuhnya kepada operator.

Arah TIK

Pemerintah memastikan regulasi di bidang telekomunikasi akan konsisten mengarah pada konvergensi atau teknologi informasi komunikasi (TIK).

Basuki mengatakan telekomunikasi tidak bisa menjadi bagian yang terpisah-pisah dengan teknologi informasi atau konvergen.

“Arahnya akan konsisten meskipun regulasi bisa berubah. Jadi yang terpenting adalah arahnya dan regulasi yang juga berpihak pada pasar [market friendly],” tegasnya.

Atip Latifulhayat, Pengamat Telekomunikasi Universitas Padjajaran, menuturkan investor asing tidak dapat dilarang kecuali diatur secara kuat. “Keberadaan investor asing dibutuhkan untuk memberi nilai tambah yang dapat diatur dengan regulasi.”

Menurut Atip, di negara mana pun tidak ada sektor yang maju tanpa investasi asing tidak terkecuali di Indonesia yang terbatas dari sisi finansial dan penguasaan teknologi.

“Jadi pemerintah sebaiknya mengembalikan kepercayaan atau kepastian bagi investasi asing,” kata Atip.

Mira Tayyiba, Kasubdit Postel dan Informatika Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) peran swasta dalam pembangunan infrastruktur telekomunikasi nasional sangat diharapkan. (roni.yunianto@bisnis.co.id)

Oleh Roni Yunianto
Bisnis Indonesia

2 responses to “‘Banyak rantai telekomunikasi jatuh ke asing’

  1. semoga negeri ini tidak dimiliki asing

  2. Sekedar menambahkan, menurut laporan tahunan Telkom 2007, ada 17% pemilik saham asing di Telkom, yaitu JPMCB 8.4% dan Bank of New York 8.7%.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s