Refleksi Gerakan 98

Ranah Merah Putih

Refleksi

Ada banyak pertanyaan yang sekarang ini muncul ke permukaan berkenaan dengan nasib bangsa ini. Pertanyaan tersebut antara lain” Mengapa krisis di Indonesia sampai saat ini belum bisa dipulihkan ?” ” Benarkah bangsa ini sudah berada pada titik kebuntuan !?” “Akankah titik balik kegagalan yang akan mengisi lembar perpolitikan Indonesia kedepan ?” Pertanyaan – pertanyaan tersebut menggugah penulis untuk urun rembuk mencermati persoalan bangsa yang carut-marut ini.
Sebelum lebih jauh mencermati kondisi bangsa yang carut-marut saat ini, ada baiknya kita mengingat kembali saat-saat menjelang kejatuhan rezim otoriter orde baru Pada saat itu terlihat dengan jelas betapa rakyat Indonesia begitu antusias mendukung gerakan reformasi dan penuh harap agar otoriterisme, ketidakadilan dan korupsi segera berakhir. Antusiasitas rakyat tidak sia-sia, Soeharto sebagai simbol rezim otoriter akhirnya jatuh pada 21 Mei 1998. Kejatuhan itu mampu membangun optimisme rakyat untuk memperbaiki bangsa agar bebas dari belenggu otoriterisme, ketidakadilan dan bebas dari korup. Kepercayaan publik internasional juga mulai pulih. Tetapi sayang, optimisme dan kepercayaan (yang sesungguhnya merupakan peluang emas untuk memperbaiki bangsa) tidak dimanfaatkan dengan baik tetapi malah dirusak oleh rezim-rezim baru, baik oleh rezim eksekutif maupun rezim legislatif.
Dirusak Rezim – Rezim Baru
Jika ditelusuri lebih cermat saat awal kejatuhan rezim otoriter orde baru sebetulnya terlihat betapa bodohnya elit politik baru republik ini, yakni elit politik baru tidak membuat garis tegas terhadap rezim sebelumnya. Sehingga apa yang diinginkannya tentang perubahan mendasar berjalan secara setengah-setengah. Dan kini, baik rezim eksekutif maupun rezim legislative terlalu banyak membuat kegagalan demi kegagalan. S Sebuah titik balik kegagalan mungkin akan terjadi. Titik balik itu ada dua kemungkinan, bisa revolusi damai atau revolusi yang rusak-rusakan. Jangan salahkan rakyat kalau justru revolusi yang rusak-rusakan itu yang akan terjadi, sebab rakyat sudah muak dengan tingkah laku rezim yang justru memperpanjang penderitaan rakyat. Muak dengan tingkah laku rezim yang doyan korupsi dan kolusi. Apalagi kini Pemerintah Indonesia dihadapkan pada isu terorisme yang mengarah kepada ketidakberdayaan negara di ’obok – obok’ AS.
Persoalannya memang ada pada ketidak beranian rezim untuk membuat “GARIS TEGAS” atau “GARIS PEMBEDA” antara yang salah dan yang benar, antara yang korup dan tidak korup, antara rezim orba dan rezim reformasi total, antara nasionalisme dan neokolonialisme. Jika garis tegas atau garis pembeda itu dimiliki rezim maka langkah -langkah implementasi jalannya negara akan berjalan sesuai agenda reformasi total sebagaimana juga cita – cita The founding Fathers and Mothers bangsa ini . Nah…sebelum revolusi rusak-rusakan itu terjadi, segeralah membuat garis tegas itu !!!.

Beberapa catatan yang secara eksplisit merupakan arah balik perjalanan gerakan mahasiswa dan pemuda Indonesia, namun demikian kita melihat banyak kelompok pemuda tertentu mengambil momentum ini dijadikan pelarian dari kegagalan dan kesalahan dirinya di dalam ikut bermain politik secara langsung maupun tidak langsung .Kekhawatiran bagi anak-anak muda saat ini adalah bagaimana tikus-tikus politik yang moncoreng pemuda tidak mencari kekuatan baru untuk memanfatkan sumpah pemuda untuk mengikrarkan diri pemuda yang berpotensi masuk kandidat presiden maupun jabatan strategis lainnya, melukai arti gerakan pemuda dan mahasiswa adalah kesalahan besar terhadap bangkitnya kaum muda itusendiri, dan jangan lupa bahwa pemboncengan terhadap isu-isu gerakan rakyat akan berpotensi melencengnya arah gerakan pemuda itu sendiri. Banyak aksi -aksi beberapa tahun terakhir kali ini terlihat banyak tokoh-tokoh muda bermain tidak pada isu yang dibawa oleh gerakan rakyat untuk menuntut hak-haknya sebagaimana warga negara yang telah dirampas oleh negara mengakibatkan kontra produktif, sungguhpun demikian keteguhan dan semagat gerakan pembebasan rakyat dari belenggu kekuatan struktural, menambah energi untuk membangun solidaritas dan kekuatan baru untuk melawan.

Lompatan yang sangat besar bangkitnya gerakan pemuda Indonesia tidak terlepas dari peristiwa proses perubahan yang sangat cepat dalam sistem pemerintahan dan cara kerja politik dalam wilayah ketatanegaraan kita, semangat yang berkobar untuk mewujudkan wajah baru Indonesia ada titik balik dimana kekuatan elemen gerakan mahasiswa yang pada dasarnya terjadi beberapa perbedaan strategi dan taktik dalam pergulatan politik nasional

Keganjilan proses demokratisasi tidak akan menemukan kekuatan yang sesungguhnya didalam reformasi karena reformasi itu hanya menjadi bingkai kekuatan status quo untuk melakukan kesalahan strategi berikutnya. Yang juga perlu dicermati adalah kekuatan dan potensi Indonesia dimana sebagian besar petani dan nelayan sesungguhnya adalah sumber kekuatan paling potensial untuk menghadi industrialisasi, tetapi juga ancaman dimana sekarang menjadi isu aktual di dunia yaitu GLOBAL WORMING dan TERORISME adalah isu paling meresahkan bagi kehidupan manusia, karena satu sisi global worming adalah produk industrialisasi, dilain pihak ada proyek terorisme dan kampanye untuk memobilisasi perang terhadap terorisme, meskipun sebenarnya ada pertanyaan besar bagi kita, kalau kita cerdas, apakah itu sebenarnya pengkambing hitaman dari kegagalan lembaga-lembaga ekonomi dunia yang di seponsori oleh negara- negara kapitalis terhadap isu terorisme?.
Apa yang terjadi saat ini adalah Indonesia menjadi tarjet kekuatan asing dan masalah besar dimana pemain spekulan ekonomi, Asia menjadi agenda negara –negara kapitalis untuk menanam modalnya dengan membayar tenaga kerja paling rendah dan menerima keuntungan yang lebih besar seperrti di Cina,India, Indonesia dan negara berkembang lainnya .Apa bila pemerintah tidak siap untuk meghadapi tarjet propaganda itu dan merugikan secara prinsip sebagaimana negara berdaulat maka akan menjadi agenda besar gerakan rakyat untuk melakukan upaya pembangkangan sipil terhadap kebijakan pemerintah serta produk-produk hukumnya jika dianggap melenceng dari proses kemerdekaan.

karena apa yang sebenarnya terjadi proses politik saat ini banyak secara konsep melenceng dari gerakan murni . Ada beberapa kemajuan di bandingkan dengan negara lain yang saat ini berjalan, akan tapi banyak agenda politik kita yang kehilangan momentum untuk menyusun rencana jangka panjang dan jangka pendek untuk mewujudkan Indonesia sukses, kita masih mempunya banyak konsep yang secara manajemen untuk transformasi dan modernisasi tidak harus mengambil format politik luar negeri, akan tetapi modal dari nilai-nilai kebangsaan kita sudah cukup untuk membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju.

Tantangan Indonesia Ke depan

Dorongan Pasar Bebas dan Globalisasi (Global Market Driven Forces):

Revolusi teknologi informasi telah memberikan kekuatan yang sangat besar dalam merubah paradigma kemanusiaan. Diantaranya yang paling cepat mengadopsi perubahan paradigma itu adalah dunia usaha dan perekonomian global.Gelombang reformasi dan demokrasi yang kita hadapi sesungguhnya hanyalah konsekuensi dari perubahan di dalam fundamen yang menyokong ekonomi dunia. Perubahan itu terjadi akibat dari berlangsungnya 3 faktor yang membentuk kembali dunia perdagangan internasional. Ketiga faktor tersebut adalah internasionalisasi komoditi, transnasionalisasi modal dan globalisasi informasi .

Suatu komoditi saat ini diciptakan berdasarkan sumbangan dari seluruh penjuru dunia. Perluasan produksi komoditi itu berarti perluasan produksi dunia. Inilah yang dimaksud dengan internasionalisasi komoditi yang membawa akibat kepada meluasnya penggunaan mata uang dunia (US dollar). Dari Gambar A, proses internasionalisasi komoditi sejak tahun 1950 – 1990 telah tumbuh sekitar 20%.

Manakala suatu komoditi dihasilkan dengan cara menggabungkan berbagai produk dari seluruh dunia, penggabungan itu akan terjadi juga kepada salah satu faktor produksinya, yaitu modal. Produksi tidak lagi melibatkan tenaga kerja diseluruh dunia, pada akhirnya ia juga melibatkan modal dari berbagai bangsa. Transnasionalisasi modal ini menyebabkan modal amat likuid, dengan cepat bergerak dari satu tempat ke tempat lain.

Pada suatu saat modal menjadi anonim, siapa pemiliknya tidak jelas diketahui dan pemanfaatannya pun lepas dari preferensi individual. Dibanding tahun 1950an, modal transnasional telah naik menjadi lebih 160% pada tahun 1990-an.

Modal jenis inilah yang yang telah merontokkan mata uang negara-negara Asia Selatan. Modal ini datang dan pergi hanya untuk satu alasan: keuntungan.

Faktor penentu ketiga adalah globalisasi informasi, yaitu penyebaran akses dan produksi informasi keseluruh dunia. Informasi bisa diakses dan dimiliki oleh siapa saja dan dimana saja di dunia ini. Perkembangan lintas batas informasi adalah yang tercepat. Sampai ketika Internet ditemukan, sekitar tahun 1990 globalisasi informasi telah naik 200% dibanding tahun 1950an. Dengan semakin luasnya pemakaian Internet globalisasi informasi naik entah berapa kali lipat, only sky is the limit.

Ketiga kecenderungan inilah yang membentuk ulang dunia tempat hidup kita sekarang. Dan salah satu faktor penentu, modal transnasional, telah membuktikan kekuatannya tatkala memicu runtuhnya perekonomian Indonesia.

Maka proses reformasi, dimana demokratisasi menjadi pegangan utamanya, yang sedang kita lakukan sekarang ini, tidak lain hanyalah langkah awal dari perubahan yang perlu dan harus kita lakukan demi menyiasati perubahan bukan saja di lingkungan internal, bahkan juga di lingkungan global.Indonesia Menghadapi Tantangan Rekolonisasi

Ketiga aspek proses globalisasi akan mendapatkan kekuatan yang sangat dahsyat dari revolusi teknologi informasi dan komunikasi, seperti telah disampaikan sebelumnya, yang mewujud dalam teknologi Internet. Dalam masa 10 tahun ke depan kemajuan Internet, dengan tingkat perkembangan yang ada, akan merubah hampir semua aspek kehidupan — pendidikan, perawatan kesehatan, kegiatan kerja dan pengisian waktu luang.

Internet menawarkan peluang yang sangat luar-biasa, yang tidak seluruhnya positif. Dari sisi positif, Internet dapat menjadi alat demokratisasi yang ampuh. Internet mampu memberikan sekaligus 2 hal yang menjadi inti demokrasi: kemampuan memilih dan kemampuan mewujudkan pilihan.

Di sisi lain, Internet juga membuka peluang luar biasa bagi lahirnya bentuk penjajahan baru. Suatu penjajahan yang bertujuan penguasaan ekonomi melalui pengendalian dan penguasaan informasi.

Kenyataan yang kita hadapi memang luar biasa pahit. Lewat perjuangan keras pada Agustus 1945 kita berhasil melepaskan diri dari kolonialisme Belanda. Sekarang, setelah lebih dari 50 tahun merdeka ternyata kita masih harus menyembah untuk belas kasihan pemodal asing. Sekarang, tatkala kita ingin bangkit, kita seakan kembali terperangkap ke dalam koridor sempit yang mengerdilkan kemartabatan dan kemandirian kita.Ekonomi Jaringan sebagai dasar Ekonomi Rakyat

Ekonomi Jaringan adalah antitesa dari paradigma ekonomi konglomerasi berbasis produksi masal ala Taylorism, dan sekaligus sintesa dari ketiga faktor yang telah dijelaskan diatas, yaitu realitas bangsa yang mayoritas pelaku usahanya adalah usaha kecil menengah, faktor pendorong global dan pasar bebas, serta dorongan revolusi teknologi informasi.

Memperhatikan berbagai faktor internal dan eksternal seperti dijelaskan sebelumnya, maka ekonomi kerakyatan perlu dipahami secara komprehensif, tidak sepotong-sepotong, dalam sebuah kerangka “close-circuit economy” yang sesuai dengan perkembangan paradigma baru masyarakat yang holistik. Secara singkat, ekonomi kerakyatan dapat dijelaskan sebagai:

  • ekonomi jaringan yang menghubung-hubungkan sentra-sentra inovasi, produksi dan kemandirian usaha masyarakat ke dalam suatu jaringan berbasis teknologi informasi, untuk terbentuknya jaringan pasar domestik diantara sentra dan pelaku usaha masyarakat,

  • suatu jaringan yang diusahakan untuk siap bersaing dalam era globalisasi, dengan cara mengadopsi teknologi informasi dan sistem manajemen yang paling canggih sebagaimana dimiliki oleh lembaga-lembaga bisnis internasional, dengan sistem kepemilikan koperasi dan publik.

  • Jaringan tersebut menerapkan sistem open consumer society cooperatives (koperasi masyarakat konsumen terbuka), dimana para konsumen adalah sekaligus pemilik dari berbagai usaha dan layanan yang dinikmatinya, sehingga terjadi suatu siklus kinerja usaha yang paling efisien karena pembeli adalah juga pemilik sebagaimana iklan di banyak negara yang menganut sistem kesejahteraan sosial masyarakat (welfare state) dengan motto: “belanja kebutuhan sehari-hari di toko milik sendiri”.

  • Ekonomi jaringan ini harus didukung oleh jaringan telekomunikasi, jaringan pembiayaan, jaringan usaha dan perdagangan, jaringan advokasi usaha, jaringan saling-ajar, serta jaringan sumberdaya lainnya seperti hasil riset dan teknologi, berbagai inovasi baru, informasi pasar, kebijaksanaan dan intelejen usaha, yang adil dan merata bagi setiap warga-negara, agar tidak terjadi diskriminasi terhadap pelaku usaha tertentu yang disudutkan sebagai beban pembangunan seperti yang terjadi selama Orde Baru.

  • Pada akhirnya, Ekonomi jaringan adalah suatu perekonomian yang menghimpun para pelaku ekonomi, baik itu produsen, konsumen, services provider, equipment provider, cargo, dsb di dalam jaringan yang terhubung baik secara elektronik maupun melalui berbagai forum usaha yang aktif dan dinamis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s