Suharto dan Pembangunan Ekonomi Cendana

LAPORAN MAJALAH TIME – 24 MEI 1999 MENGENAI HARTA JARAHAN KELUARGA
SUHARTO

Penyelidikan TIME ke dalam kekayaan keluarga Suharto dan anak-
anaknya menemukan harta jarahan sebesar $ 15 milyar dalam bentuk
uang tunai, properti, barang-barang seni, perhiasan dan pesawat-
pesawat jet pribadi

Oleh: JOHN COLMEY dan DAVID LIEBHOLD Jakarta

PERUSAHAAN KELUARGA

Ketika tiba masa akhir Suharto, presiden Indonesia terlama, ia hanya
nampak pasif. Sementara para mahasiwa dan massa rakyat yang marah
turun ke jalan-jalan, dan disambut dengan tembakan dan gas air mata;
jendral berbintang lima itu mundur ke belakang sambil mencoba menata
segala sesuatunya dengan baik. Ketika ia akhirnya turun tahun lalu,
ia hanya berdiri menyingkir ke sebelah, sementara B.J Habibie mulai
diambil sumpahnya. Setelah itu Suharto jarang kedengaran lagi.

Tetapi nyatanya Suharto jauh lebih sibuk dari yang disadari oleh
banyak orang. Sesaat setelah Soeharto jatuh dari kekuasaan, telah
tercium adanya usaha-usaha untuk menyelamatkan harta pribadinya. Di
bulan JulI 1998, serangkaian laporan mengindikasikan bahwa uang
dalam jumlah luar biasa yang berhubungan dengan Indonesia telah
dipindahkan dari sebuah Bank di Switzerland ke Bank lain di Austria,
yang dipertimbangkan sebagai tempat berlindung yang lebih aman untuk
deposito-deposito rahasia. Pemindahan tersebut memperoleh perhatian
dari kementerian keuangan Amerika, yang mengikutinya secara seksama,
dan menggerakkan penyelidikan- penyelidikan diplomatik di Wina.
Sekarang, sebagai bagian dari penelitian empat bulan yang meliputi
11 negara, TIME telah menemukan bahwa $ 9 milyar dari uang Soeharto
dipindahkan dari Switzerland ke sebuah account Bank di Austria.
Nilai yang tidak jelek untuk seseorang yang gaji kepresidenannya
sebesar $ 1.764 per bulan.

Jumlah milyaran ini hanyalah sebagian dari kekayaan Soeharto. Meski
pun krisis keuangan Asia telah memotong kerajaan keluarga secara
signifikan, bekas presiden ini dan anak-anaknya masih menguasai
kekayaan luar biasa. Kerajaan ini dibangun dalam waktu lebih dari
tiga dekade yang mencakup perusahaan-perusaha an dari skala kecil
hingga besar. Menurut data dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan
majalah properti Indonesia, keluarga Soeharto baik yang dimiliki
sendiri maupun melalui perusahaan-perusaha annya, mengontrol 3,6 juta
hektar real estate di Indonesia, sebuah area yang lebih besar dari
Belgia. Luas ini mencakup 100.000 meter persegi ruangan kantor di
Jakarta dan hampir 40 persen dari luas seluruh propinsi Timor Timur.

Di Indonesia, enam anak Soeharto memiliki saham dalam jumlah
signifikan sekurang-kurangnya di 564 perusahaan, dan kekayaan luar
negeri mereka mencakup ratusan perusahaan-perusaha an lainnya,
tersebar dari Amerika ke Uzbekistan, Belanda, Nigeria dan Vanuatu.
Keluarga Soeharto juga memiliki sejumlah besar hiasan-hiasan
berharga. Selain itu, sebuah ranch untuk berburu seharga $ 4 juta di
Selandia Baru and memiliki setengah dari kapal pesiar (yatch)
seharga $ 4 juta yang ditambatkan di luar Darwin, Australia. Hutomo
Mandala Putra (nama kecilnya Tommy) putra terkecil, mempunyai 75
persen saham di sebuah lapangan golf 18 lubang dengan 22 apartemen
mewahnya di Ascot, Inggris. Bambang Trihatmojo, putra kedua
Soeharto, memiliki sebuah penthouse seharga $ 8 juta di Singapura
dan sebuah rumah besar seharga $ 12 juta di sebuah lingkungan
esklusif di Los Angeles, letaknya dua rumah dari rumah bintang rock
Rod Steward dan hanya beda satu jalan dari rumah saudaranya Sigit
Harjoyudanto yang bernilai $ 9 juta. Putri tertua, Siti hardiyanti
Rukmana, mungkin telah menjual Boeing 747-200 jumbo jetnya, tetapi
armada kapal terbang keluarga Soeharto masih mencakup, sekurang-
kurangnya sampai saat ini, sebuah DC-10, sebuah Boeing 737 biru dan
merah, sebuah Canadian Challenger 601 dan sebuah BAC-111. Yang
terakhir pernah dipunyai oleh the Royal Squadron of Britain’s Queen
Elizabeth II, menurut Dudi Sudibyo, managing editor dari Angkasa,
majalah terbitan Indonesia.

Setelah melakukan ratusan wawancara dengan teman-teman Soeharto,
baik yang dahulu mau pun sekarang, pegawai pemerintah, kalangan
bisnis, ahli-ahli hukum, akuntan-akuntan, bankir-bankir dan keluarga
mereka, serta meneliti berlusin-lusin dokumen (termasuk catatan-
catatan Bank tentang pinjaman luar negeri terbesar), para
koresponden TIME menemukan indikasi bahwa sekurang-kurangnya $ 73
milyar melewati tangan-tangan keluarga Soeharto antara tahun 1996
hingga tahun lalu. Sebagian besar berasal dari pertambangan,
perkayuan, komoditi-komoditi dan industri-industri perminyakan.
Investasi-investasi buruk dan krisis keuangan di Indonesia telah
menurunkan jumlah kekayaan tersebut. Tetapi bukti mengindikasikan
bahwa Soeharto dan enam anaknya tetap memiliki kekayaan $ 15 milyar
tunai, saham.saham, modal-modal perusahaan, real estate, perhiasan
dan benda-benda seni -termasuk karya-karya Affandi dan Basoeki
Abdullah dalam koleksi Siti Hediati Hariyadi, putri tengah yang
dikenal sebagai “Titiek”.

Soeharto membuat fondasi untuk kekayaan keluarganya dengan
menciptakan sistem patron yang berskala nasional yang
mempertahankannya dalam kekuasaan selama 32 tahun. Anak-anaknya,
pada gilirannya, memfungsikan kedekatan dengan Presiden kedalam
peranan calo (perantara) untuk pembelian dan penjualan dari produk-
produk minyak, plastik, senjata, bagian-bagian pesawat terbang dan
petrokimia yang dimiliki pemerintah. Mereka memegang monopoli pada
distribusi dan import komoditi-komoditi utama. Mereka mendapatkan
pinjaman dengan bunga rendah melalui kerjasama dengan bankir-bankir,
yang seringkali takut untuk menanyakan pembayaran kembali. Subarjo
Joyosumarto, managing director Bank Indonesia menyatakan bahwa
selama pemerintahan Soeharto, “ada sebuah situasi yang membuat sukar
bagi Bank-Bank negara untuk menolak mereka.

“Sekarang, dengan setengah penduduk dibawah garis kemiskinan sebagai
hasil dari krisis keuangan, tidak ada keraguan bahwa keluarga
Soeharto menumbuhkan kekayaan diatas penderitaan rakyat. Seorang
bekas kolega bisnis anak-anak Soeharto memperkirakan bahwa mereka
tidak membayar pajak antara $ 2,5 milyar dan $ 10 milyar pada komisi
saja. “Sangat mungkin tidak ada perusahaan-perusaha an Soeharto telah
membayar 10 persen dari kewajiban pajak yang sebenarnya”, kata Teten
Masduki, seorang anggota eksekutif Indonesian Corruption Watch,
sebuah NGOs. “Dapatkah dibayangkan berapa besar pendapatan yang
telah hilang?

“Kebanyakan orang Indonesia juga menyalahkan Suharto karena
menciptakan iklim korupsi yang mempengaruhi seluruh perekonomian
Indonesia. Bank Dunia memperkirakan bahwa sampai sebanyak 30%
anggaran pembangunan di Indonesia selama dua dekade telah menguap
karena korupsi yang meluas di lingkungan pegawai negeri dari atas
sampai ke bawah. “Kalau anda tidak membayar suap, orang akan
menganggap anda aneh”, kata Edwin Soeryadjaya, Direktur perusahaan
patungan telekomunikasi Indonesia-Amerika. “Sungguh sedih. Saya
sampai tidak bisa bilang bahwa saya bangga menjadi orang Indonesia.
Ini adalah satu dari negara paling korup di dunia”.

HARAPAN YANG BESAR

Bagaimana perusahaan keluarga Suharto mendapatkan kekayaan dan
kekuatannya; dan memperpanjang impian jutaan orang Indonesia
lainnya? Ketika Suharto menjadi Presiden pada tahun 1967, gabungan
yang unik antara kekuatan dan kepintaran politik orang Jawa telah
terwujud. Penyingkiran kehidupan presiden Sukarno, nasionalis
pendiri negara, terlaksana selama dua tahun dengan disertai
pembersihan anti-komunis yang memakan korban sebanyak lebih dari
500.000 orang. Namun Suharto, seorang jenderal yang tidak dikenal
dari sebuah desa di pelosok Jawa Tengah, mengawalinya dari sebuah
kehidupan yang tampaknya sederhana. Ia dan istrinya Siti Hartinah
(Ibu Tien) pada awalnya hidup di rumah peristirahatan yang sederhana
di daerah Menteng, Jakarta dan biasa mengendarai Ford Galaxy. Hal
inilah yang menandai perbedaan yang kontras antara dia dengan
Sukarno, yang dengan gaya hidup bak seorang raja, dengan istana
megah kepresidenannya dan istri ketiganya yang glamour Dewi, yang
sebelumnya sebagai penyanyi Jepang di night club Cobacabana di
Tokyo. Akan tetapi di balik topengnya, sesungguhnya Suharto telah
menunjukkan awal kesukaannya untuk menghasilkan uang.

Di tahun 1950an, ia diduga terlibat dengan sengaja dalam
penyelundupan gula dan kegiatan extra-militer lainnya di Jawa
Tengah, yang menyebabkannya kehilangan kedudukan sebagai panglima
KODAM Diponegoro ketika terjadi gerakan anti korupsi di tahun 1959.
Dalam otobiografinya, Suharto menegaskan bahwa ia menukar gula untuk
mendapatkan beras, dalam upaya mengatasi kekurangan pangan lokal dan
secara pribadi ia tidak mendapatkan keuntungan darinya. Pada
akhirnya, pihak militer memindahkan Suharto ke posisi yang tidak
memiliki pengaruh kuat yaitu di sekolah staf angkatan bersenjata di
Bandung, Jawa Barat.

Pada tahun 1966, bisnis keluarga Suharto mulai terbentuk. Ketika
menjadi pejabat Presiden, Suharto mengeluarkan Peraturan Pemerintah
no. 8 untuk merampas dua konglomerasi yang dikuasai Sukarno yang
memiliki aset sebanyak $ 2 milyar. Konglomerasi tersebut kemudian
menjadi PT Pilot Project Berdikari, di mana Suharto menempatkan
pengelolaannya di bawah Achmad Tirtosudiro, seorang pensiunan
jenderal yang pada saat ini mengetuai sebuah organisasi muslim yang
kuat yang didirikan oleh Presiden Habibie. Perusahaan ini menjadi
salah satu jantung utama kerajaan bisnis Suharto.

Keberuntungan presiden mulai melambung bersama-sama dengan beberapa
teman dekatnya, yang paling terkenal adalah Liem Sioe Liong dan The
Kian Seng, yang lebih dikenal sebagai Mohammad “Bob” Hasan. Di akhir
tahun 1969, Suharto memberikan sebagian monopoli — yang pada
akhirnya menjadi monopoli penuh — pada barang-barang impor, pabrik
penggilingan dan distribusi gandum dan tepung pada PT Bogasari Flour
Mills, yang dikuasai oleh Kelompok Salim milik Liem. Bertahun-tahun
Liem dikenal sebagai Oom Liem pada keluarga Suharto dan Hasan
menjadi orang terpercaya Suharto dari luar kalangan keluarga, yang
pada akhirnya memperluas kerajaan bisnisnya sendiri dengan cepat.

Dasar keberuntungan Suharto adalah yayasan kepresidenan. Lusinan
yayasan telah didirikan seolah-olah sebagai yayasan amal, dan yang
membiayai sejumlah besar rumah sakit, sekolah, dan mesjid. Tetapi
yayasan-yayasan tersebut juga merupakan dana raksasa yang tidak
resmi untuk investasi proyek-proyek Suharto dan kroninya, maupun
untuk mesin politik presiden, yaitu Golkar. Menurut George
Aditjondro, pengajar Sosiologi di Universitas Newcastle, Australia,
terdapat sekitar 79 yayasan yang dikuasai oleh Suharto, istrinya
(meninggal tahun 1996), saudara-saudara istrinya dari desa,
sepupunya dan saudara tirinya, enam anaknya, keluarga dan orang tua
pasangan anak-anak tersebut, orang-orang militer yang dipercaya, dan
teman-teman dekat lainnya seperti Habibie, Hasan dan Liem.

“Yayasan-yayasan tersebut membeli berbagai saham, mendirikan
berbagai perusahaan, meminjamkan uang kepada para pengusaha,” kata
Adnan Buyung Nasution, pengacara yang pada akhir tahun lalu mencoba
membentuk komisi independen terhadap kekayaan Suharto. Yayasan
menerima “sumbangan”, yang seringkali tidak dalam bentuk sukarela.
Diawali di tahun 1978, seluruh Bank milik pemerintah diminta
memberikan 2,5 persen keuntungannya untuk Yayasan Dharmais dan
Yayasan Supersemar, demikian menurut Jaksa Agung terdahulu Soedjono
Atmonegoro. Keppres no. 92 tahun 1996 memerintahkan bahwa setiap
pembayar pajak dan perusahaan yang berpenghasilan $ 40.000 setahun,
diharuskan menyumbang 2 % pendapatannya untuk Yayasan Dana Sejahtera
Mandiri, yang dibentuk untuk mendukung program pemberantasan
kemiskinan (perintah ini kemudian ditiadakan pada bulan Juli 1998).

Saat ini, pegawai negeri dan anggota militer menyumbang sebagian
penghasilan mereka setiap bulannya kepada Yayasan Amal Bhakti Muslim
Pancasila, yang digunakan Suharto untuk memenangkan dukungan bagi
kalangan umat Islam. Sementara “sumbangan” tersebut menjadi bagian
besar dari penghasilan yayasan, masih terdapat sumber-sumber
keuangan lainnya. Di tahun 1978, Yayasan Suharto menguasai 60% saham
Bank Duta — sebuah Bank swasta terkemuka, kata seorang bekas
pejabat Bank Duta. Saham tersebut bertambah secara perlahan menjadi
87 %. Kemudian yayasan-yayasan tersebut menginvestasikannya ke dalam
berbagai perusahaan swasta yang didirikan anggota keluarga Suharto
dan kroninya. Setelahnya, dengan pertolongan menteri-menteri atau
perusahaan milik negara, perusahaan-perusaha an tersebut akan
mendapatkan sebuah kontrak atau sebuah monopoli.

Sejak jatuhnya Suharto, yayasan-yayasan tersebut telah menjadi
target utama para penyelidik Indonesia. Segera setelah pengunduran
Suharto, Jaksa Agung Soedjono menyelidiki pembukuan empat yayasan
terbesarnya. Apa yang ditemukannya sungguh mengejutkan. “Yayasan-
yayasan tersebut didirikan untuk menyalurkan layanan sosial”, ia
mengatakan, “tetapi Suharto menyalurkan uangnya ke anak-anak dan
teman-temannya. “. Soedjono menemukan bahwa salah satu yayasan yang
terbesar, Supersemar, telah menyebarkan 84 % dananya pada sasaran
yang tidak diketahui, termasuk pinjaman kepada perusahaan milik anak-
anak dan teman-temannya. Suharto, sebagai pimpinan, harus
menandatangani cek diatas $ 50.000. Sodjono menyampaikan laporan
pendahuluan atas temuannya kepada Presiden Habibie Juni lalu. Ia
dipecat lima jam kemudian. (Presiden berkata Soedjono dipecat karena
ia melewati garis komando untuk masuk masalah yang lain.)

MINYAK DAN TANAH

Dalam dasawarsa pertama masa kekuasaannya, Suharto melalui Ibnu
Sutowo menjadikan Pertamina seakan-akan milik pribadinya. Ketika
Ibnu Sutowo dipecat di tahun 1976, tidaklah jelas apa sebabnya,
apakah karena salah mengelola perusahaan atau karena memiliki ambisi
politik yang kelewat besar. Saat ini, di usianya yang ke 84, Ibnu
Sutowo menceritakan kepada TIME mengenai hal tersebut. Menurutnya,
tahun 1976 Suharto menyuruhnya mendirikan perusahaan untuk
mengangkut minyak mentah Indonesia ke Jepang. “Suharto bilang, saya
ingin kamu menarik $ 10 sen untuk setiap barrel yang terjual oleh
perusahaan baru itu.” Ibnu Sutowo ingat saat itu. “Ketika saya
mengatakan tidak, ia kelihatannya kaget”.

Setelah Ibnu Sutowo dipecat, Pertamina melakukan ekspor dan impor
minyak di pertengahan tahun 80-an melalui Perta Oil Marketing dan
Permindo Oil Trading, dua perusahaan di mana Tommy dan Bambang
memiki saham. Menurut seorang pejabat senior di pemerintahan
Habibie, dua perusahaan tersebut menerima komisi sekitar $ 30-35 sen
per barrel. Di tahun fiskal pertama tahun 1997-1998, kedua
perusahaan itu menjual rata-rata 500.000 barrel per hari, dengan
komisi lebih dari $ 50 juta per tahun. Menurut Subroto, mantan
Menteri Pertambangan dan Energi: “Pertamina sebenarnya bisa
mengekspor langsung. Dua perusahaan itu sebenarnya tidak dibutuhkan”.

Selanjutnya, seorang mantan mitra bisnis Tommy dan Bambang
mengatakan bahwa ‘mark up’ tidak resmi dalam ekspor dan impor minyak
telah memberikan dua perusahaan itu sekitar $ 200 juta per tahun
selama tahun 1980-an ketika harga minyak bumi tinggi, dan sekitar
separuhnya di tahun 1990an. Keluarga Suharto juga mendapatkan
kontrak-kontrak Pertamina untuk asuransi, keamanan, suplai makanan
dan jasa-jasa lainnya –170 kontrak secara keseluruhan. Tahun lalu,
ketika Suharto jatuh, Pertamina membatalkan banyak kontrak-kontrak
tersebut dan mengumumkan bahwa Pertamina berhasil menghemat $ 99
juta per tahun karenanya. Seorang mantan mitra bisnis keluarga
Suharto mengatakan: “Mereka memerah Pertamina seperti layaknya sapi”.

Salah satu penghasil uang utama bagi Suharto adalah PT. Nusantara
Ampera Bakti, atau Nusamba, didirikan tahun 1981 oleh tiga yayasan
Suharto dengan modal $ 1,5 juta bersama Bob Hasan dan Sigit Suharto
(masing-masing memperoleh saham 10%). Perusahaan ini menjadi
jaringan besar dengan lebih dari 30 anak perusahaan di bidang
keuangan, energi, pulp dan kertas, baja dan otomotif. Jantung
Nusamba adalah saham sebesar 4,7 % pada Freeport Indonesia, sebuah
perusahaan AS yang merupakan penambang emas terbesar di dunia dengan
kegiatan di Papua Barat. Tahun 1992 tiga yayasan itu memindahkan 80%
sahamnya ke Bob Hasan, meskipun tidak jelas berapa banyak yang ia
bayar untuk itu. Sampai kini, penyelidik dari pemerintah tidak
pernah memeriksa keuangan Nusamba. OC Kaligis, ketua penasehat hukum
Suharto mengatakan: “Bila ingin tahu tentang Nusamba, tanya Bob
Hasan. Dalam penyelidikan Suharto, Jaksa Agung tidak pernah bertanya
soal Nusamba”.

Keluarga Suharto mendapatkan uang tidak saja melalui kontrak-kontrak
pemerintah, tetapi juga dari menyusahkan kehidupan orang Indonesia.
Ketika Suharto ingin membangun peternakan sapi di Jawa Barat, ia
merampas tanah lebih dari 751 ha yang dihuni oleh 5 desa. Menurut
pemerintah, ia membayar ganti rugi sebesar $ 5.243. Beberapa
penduduk mengatakan, mereka tidak memperoleh ganti rugi apapun.
Muhammad Hasanuddin, yang saat itu masih anak-anak, ingat ketika
keluarganya kehilangan tanah mereka seluas dua hektar. “Kami melihat
sapi gemuk-gemuk dijaga oleh serombongan penjaga berkuda, menginjak-
injak ladang kami yang sudah hancur. Seluruh keluarga hanya bisa
menangis”. Ayah Hasanuddin akhirnya menjadi tukang becak di Jakarta.

Banyak cerita sama. Di tahun 1996 sebuah perusahaan milik Tommy
merampas tanah penduduk desa di Bali seluas 650 hektar untuk resort.
Perusahaan itu sebenarnya hanya memperoleh ijin untuk 130 ha, yang
kemudian diperluas secara ilegal, demikian menurut Sonny Qodri,
ketua LBH Bali. Penduduk yang menolak untuk menandatangani
perjanjian menjual tanah, diintimidasi, dipukuli dan sering direndam
dalam air sebatas leher. Dua dari mereka dibawa ke pengadilan dan
dipenjara 6 bulan. Sekarang tak ada yang tertinggal dari proyek itu:
resesi datang ketika buldozer akan bekerja.

Hasan Basri Durin, Ketua BPN dan Menteri Agraria, mengatakan bahwa
keluarga Suharto bisa dikatakan tidak membayar untuk tanah-tanah
yang mereka inginkan –nilai yang dibayar hanya 6% dari nilai pasar
sebenarnya, dan pemilik tanah biasanya berubah pikiran dan bersedia
menjual tanah setelah kedatangan tentara. “Kadang-kadang mereka
tidak membayar satu sen pun”, kata Hasan. “Namun semuanya legal
karena mereka (keluarga Suharto) memiliki dokumen”. Hanya separuh
petani Indonesia yang memiliki sertifikat tanah, sehingga sulit bagi
mereka untuk membuktikan kepemilikannya — dan lebih sulit lagi
untuk membuktikan terjadinya intimidasi. Hasilnya, hanya sedikit
yang mengajukan gugatan.

ANAK-ANAK KEBERUNTUNGAN

Selama bertahun-tahun, korupsi di Indonesia adalah semacam bentuk
pemberian komisi dari pembelian, yang umum dijumpai di negara-negara
berkembang. Ada dua faktor yang menyebabkan Indonesia agak berbeda
dari yang lainnya. Pertama, posisi Indonesia sebagai bintang
panggung baru dalam keajaiban ekonomi Asia, yang membawa aliran dana
yang mengalir ke sektor bisnis dan real estate. Bank Dunia
memperkirakan bahwa antara tahun 1988 sampai tahun 1996, Indonesia
telah menerima lebih dari $ 130 milyar dari investasi asing. Ini
semua hanya mungkin di bawah pengaruh Barat, yang telah mendukung
Suharto selama 30 tahun, kata Carel Mohn, juru bicara Transparansi
Internasional, sebuah Organisasi non-pemerintah (Ornop) yang
berbasis di Berlin.

Faktor kedua, adalah anak-anak Suharto. Ke-enam anak-anak tersebut
masuk ke dalam bisnis, panggilan hati yang telah ada semenjak usia
dini mereka. Saya ingat ketika kami masih remaja, saya dan Bambang
dan teman-temannya datang kerumah Oom Liem, kata seorang teman kecil
anak Suharto yang kedua. Oom Liem akan selalu memberi kami sepaket
uang yang dibungkus kertaskoran. Paket itu, katanya, berisi cek
senilai sekitar $ 1.000 atau lebih. Wati Abdulgani, seorang
pengusaha perempuan yang juga berhubungan dengan perusahaan keluarga
Suharto di tahun 1980an mengatakan: “Anak-anak ini mengamati apa
saja yang diberikan oleh Oom-nya tersebut, dan kemudian mereka
berpikir, Bagaimana dengan kami nanti bila kami sudah besar, apakah
bisa seperti dia?”

Sigit, anak yang tertua, secara jelas dipaksa oleh ibunya untuk
masuk ke bisnis. Peran ibunya sebagai orang di belakang layar
membuatnya terkenal dengan sebutan “Madam Tien Percent”. Seorang
teman bu Tien pernah berbicara dengannya pada saat pemerintah sedang
membangun bandara internasional Soekarno-Hatta. “Ia bilang pada
saya, saya ingin Sigit belajar tentang Bisnis”, katanya. Saya
katakan sebaiknya Sigit menyelesaikan dulu universitas- nya. Jawab
ibunya, “Jangan, jangan, Sigit tidak bisa berpikir jelas”. Dua
narasumber yang bekerja untuk proyek Bandara tersebut berkata bahwa
ketika kedua terminal bandara telah selesai di tahun 1984, sebanyak
$ 78,2 juta harus diserahkan ke Sigit dalam bentuk mark-up yang
kelihatannya akan seperti biaya berjalan. Sigit kemudian beranjak ke
bisnis yang lebih besar lagi. Di tahun 1988, Departemen Sosial
menetapkan adanya karcis SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah),
yang dipegang oleh perusahaannya. SDSB tersebut dapat terus
beroperasi sampai kemudian terpaksa harus dihapus karena protes anti-
judi dari kalangan Islam di tahun 1993. Pola judi tersebut membuat
Sigit dan perusahaannya mendapat jutaan dollar setiap minggunya,
kata Christianto Wibisono dari PDBI (Pusat Data Bisnis Indonesia),
yang telah mengumpulkan berbagai informasi diseputar bisnis dan
perusahaan-perusaha an yang terkait dengan Suharto semenjak tahun
1980.

Anak keduanya, Bambang, mendirikan Group Bimantara di tahun 1981
bersama dengan dua teman bekas anggota kelompok band rock-nya.
Mereka dibimbing masuk ke bisnis oleh Oom Liem. Dari tahun 1967
sampai tahun 1998, BULOG (Badan Urusan Logistik) mengimpor dan
mendistribusikan bahan-bahan pokok, seperti terigu, gula, kacang,
dan beras melalui perusahaan-perusaha an yang terkait dengan Suharto,
termasuk enam diantaranya milik Liem. Sesuai permintaan Bambang,
Liem memberikan sebagian bisnis kepadanya. Dari perdagangan gula
saja, Bambang mendapat keuntungan sebesar $ 70 juta setahunnya,
hanya untuk menstempel dokumen. Sistem itu berjalan dengan begitu
baiknya, sehingga setiap anak yang mau masuk ke bisnis diberi
sebagian-sebagian dari bisnis tersebut. Praktek tersebut terus
berjalan sampai tahun 1998. Dari tahun 1997 sampai 1998, Liem
mendapat kontrak dari BULOG untuk mengimpor sekitar 2 juta ton beras
yang bernilai $ 657 juta. Sebagai bagian dari kontrak itu,
disebutkan bahwa anak terkecil Suharto, Siti Hutami Endang
Adiningsih (Mamiek) mengimpor 300.000 ton beras yang bernilai $ 90,3
juta. Selama 18 tahun terakhir, lewat adanya keinginan pemerintah
untuk menstabilkan harga beras, anak-anak Suharto telah berhubungan
dengan BULOG untuk menghasilkan sekitar $ 3 milyar sampai $ 5 milyar
bagi mereka sendiri, demikian menurut seorang bekas pejabat
pemerintah.

Anak tertua, Tutut, tumbuh menjadi ratu lebah dari klan Suharto.
Basis kerajaan bisnisnya adalah Group Citra Lamtoro Gung. Bisnis
besar pertamanya adalah membangun dan mengoperasikan jalan tol.
Proyek jalan tol-nya yang pertama dimenangkannya tahun 1987, setelah
pemerintah mengalahkan dua pesaing tender lainnya. Pembiayaannya
berasal dari dua bank pemerintah, sebuah perusahaan semen milik
pemerintah, dan yayasan milik Suharto. Ketika presiden Bank Bumi
Daya menolak permintaan Tutut akan pinjaman-bebas- bunga, ia langsung
dipecat. Di pertengahan tahun 1990, jalan tol-nya menghasilkan $
210.000 per-hari. Di tahun 1995 , konsesi sistem jalan tol yang
dipunyainya, bisnis yang paling menguntungkan di Indonesia,
diperpanjang sampai tahun 2004. Kata Teddy Kharsadi, Direktur
corporate-affair perusahaan jalan-tol PT Citra Marga
Nusaphala, “Perpanjangan ini merupakan konsekuensi yang wajar dari
investasi kami”.

Kerajaan bisnis Tutut meliputi juga telekomunikasi, perbankan,
perkebunan,penggili ngan tepung terigu, konstruksi, kehutanan, serta
penyulingan dan perdagangan gula. Para pengusaha asing tidak bisa
lain selain menjadikan keluarga Suharto sebagai partner-nya, bila
mereka hendak ber-bisnis diIndonesia, dan Tutut akan selalu berada
di deretan pertama di dalam daftar. “Banyak perusahaan multinasional
besar menginginkan adanya koneksi yang kuat, dan hal ini tentu saja
berguna bagi mereka”, kata Graeme Robertson, seorang Australia
kelahiran Indonesia, yang perusahaannya – Group Swabara – bergerak
di pertambangan emas dan batubara. Pada puncak kekuasaan Tutut,
investor yang berkeinginan untuk menemuinya, harus membayar terlebih
dahulu uang sebesar $ 50.000 sebagai “jasa konsultasi” kepadanya.

Di awal tahun 1990an, Indonesia mulai memperhatikan saran bagi
dijalankannya ekonomi berorientasi pasar dengan menswastakan
perusahaan-perusaha an negara. Keluarga Suharto adalah penerima
manfaat terbesar. Suharto meniadakan monopoli negara dalam
telekomunikasi di tahun 1993, dengan memberikan lisensi
pengoperasian sambungan langsung internasional dan jaringan telpon
bergerak digital yang pertama di Indonesia kepada perusahaannya
Bambang, PT Satelit Palapa Indonesia (Satelindo). Pada saat yang
sama, perusahaan negara PT Telkom menyerahkan basis pelanggannya
kepada Satelindo, ketika Satelindo meluncurkan satelitnya sendiri,
yang ketiga di Indonesia, lewat bantuan hutang sebesar $ 120 juta
dari Bank Export-import Amerika. TIME telah meneliti bahwa
pemerintah telah memberikan lisensi dan basis pelanggan Telkom
kepada Satelindo tanpa tender atau pembayaran. Dengan bantuan cuma-
cuma pemerintah inilah, Bambang mengontrol perusahaannya, yang
menurut harga pasar bernilai $ 2,3 milyar di tahun 1995. Ketika
perusahaan Deutsche Telekom Jerman membeli 25% saham Satelindo,
mereka membayar sebesar $ 586 juta. Bambang juga menerima saham
utama sebesar $ 90 juta sebagai jasa fasilitasi dari Deutsche
Telekom sebagai bagian dari penjualan tersebut.

TERLALU BANYAK HAL YANG BAGUS

Kepentingan anak-anak Suharto menjadi semakin membesar sehingga
mereka mulai bentrok satu sama lain. Bambang dan Tutut bersaing
dalam mendirikan stasion televisi mereka masing-masing. Tommy
bersaing dengan Sigit dalam penerbangan, serta dengan Bambang dalam
produksi mobil dan perkapalan. Di tahun 1990 pemerintah mengadakan
lelang bagi kontrak pengadaan peralatan pemindah 350.000 sambungan
telpon. Perusahaan NEC Jepang bergabung dengan sebuah perusahaan
milik Bambang. Pesaingnya perusahaan AT&T, memberi Tutut 25% saham
dalam perusahaan lokal mereka bernama PT Lucent Technologies
Indonesia. Pada akhirnya proyek tersebut dibagi 50-50 diantara AT&T-
Tutut dengan NEC-Bambang. Di tahun 1996, Tutut berselisih dengan
Sigit guna mendapatkan hak pengembangan tambang emas terbesar Busang
di Kalimantan Timur. Partner Tutut, perusahaan Barrick-Gold dari
Kanada, berlawanan dengan partner Sigit, Bre-X Minerals. Kali ini,
dua-duanya mendapat hasil nihil. Busang ternyata hanyalah cerita
bohong-bohongan terbesar dalam sejarah pertambangan.

Persaingan menjadi semakin keras ketika anak-cucu Suharto mulai
mencari berbagai monopoli di bisnis pinggiran. Bambang mendapat
kontrak untuk mengimpor kertas khusus untuk mencetak uang. Tutut
mengambil-alih usaha pemrosesan SIM (Surat Ijin Mengemudi).
Perusahaan istri Sigit, Elsye, menjadi produsen tunggal dalam
pembuatan KTP. Di tahun 1996, cucu Suharto, Ari Sigit, merencanakan
skema penjualan stiker pajak minuman bir dan alkohol sebesar $ 0,25
per-botol di Indonesia (bisnis ini akhirnya hancur karena para
produsen menstop pengapalan bir ke Bali sebagai protes). Sembilan
bulan sebelum Suharto turun, Ari berusaha untuk mengadakan
proyek “sepatu nasional”, di mana semua anak Indonesia diharuskan
untuk membeli sepatu sekolah dari perusahaan miliknya. “Pada
akhirnya”, kata seorang pengacara Amerika yang telah 20 tahun
bekerja di Indonesia, “satu hal yang paling transparan di Indonesia
adalah korupsi”.

Ketika rejim Soeharto jatuh, anak-anaknya mempergunakan pengaruh
yang mereka miliki untuk dapat melepaskan diri dari belitan hutang
dan bisnis yang hancur. Pada bulan April 1994, Tommy beserta dua
rekan bisnisnya dan Pusat Koperasi Unit Desa (PUSKUD) — organisasi
petani yang dijalankan oleh pemerintah — meresmikan sepermarket
Goro. Berdasarkan catatan Bank Bumi Daya, untuk kepentingan ini
mereka memperoleh pinjaman sebesar $ 100 juta, dimana angsuran untuk
pinjaman ini tidak pernah dibayar. Pada tanggal 4 Mei 1998, Tommy
kemudian menjual dengan harga kontan seluruh saham atas supermarket
ini kepada petani dan koperasinya seharga $ 112 juta, sehingga
memindahkan seluruh beban hutang yang ada ke pundak petani dan
PUSKUD. Menurut Ibnu Hartomo, adik lelaki ibu Tien, anak-anak
Suharto itu sangat liar dan tampaknya sudah tidak lagi mengingat
arti etika. Pada saat kerusuhan Mei, satu minggu sebelum Suharto
mengundurkan diri, massa yang marah membakar habis salah satu toko
Goro yang ada di Jakarta Selatan.

Walaupun banyak dari kekayaan Suharto hilang karena manajemen yang
buruk dan juga karena ekonomi negara yang hancur – misalnya PT.
Sempati Air milik Tommy bangkrut pada tahun 1998- keluarga ini masih
tetap memiliki banyak usaha yang masih memberikan keuntungan. Satu
dari banyak contoh adalah PT. Panutan Selaras milik Sigit yang
memproduksi 25% dari bensin Premix High Octane yang banyak digunakan
oleh mobil-mobil di Indonesia dan juga ia memiliki 22 tempat
pengisian bensin di Jakarta, Surabaya dan Jawa Tengah. Sedangkan PT.
Humpuss Trading milik Tommy juga memproduksi bensin High End.

Bisnis yang lain lagi adalah bisnis Real Estate. Saat harga-harga
property berjatuhan, kekayaan property keluarga ini diperkirakan
sebesar $ 1 Milyar, dan banyak lagi termasuk perkebunan tebu, mal-
mal, hotel-hotel yang sampai saat ini masih terus membawa
keuntungan. Di pertengahan tahun 1980, Bambang membayar pemerintah $
700 per m2 untuk sebidang tanah di Jakarta Pusat dimana saat ini
berdiri Hotel Grand Hyaat, asset utama PT. Plaza Indonesia. Di Bali,
anak-anak tersebut juga berhasil menyabet permata yang paling
berharga dari industri pariwisata; seperti: Bali Cliff Hotel
(Sigit), Sheraton Nusa Indah Resort (Bambang), Sheraton Laguna Nusa
Dua (Bambang), Bali Intercontinental Resort (Masih milik Bambang
sampai 2 bulan yang lalu), Nikko Royal Hotel (milik Sigit sampai 6
bulan lalu), Four Seasons Resort di Jimbaran (Tommy) dan Bali Golf
dan Country Club di Nusa Dua (Tommy). Tutut dan Tommy juga membeli
Mabes Polri Pusat di Jakarta dengan harga 1/5 dari harga pasar.
Menteri kehutanan Muslimin Nasution mengatakan terdapat 4.5 juta
hektar hutan dan perkebunan yang terkait dengan anak-anak Suharto.
Pengamat ekonomi Michael Backman dari Melbourne, yang telah menulis
tentang Suharto dalam bukunya “Asian Eclipse: Exploring the Dark
Side of Business in Asia”, menyatakan, “Bila ada yang mengatakan
bahwa kerajaan bisnis keluarga Suharto sudah hancur, maka dia salah.
Mereka masih mempunyai saham-saham di perusahaan kayu, perkebunan
kelapa sawit, dan hotel-hotel. Semuanya itu masih menghasilkan
banyak dollar”.

RODA KEADILAN

Suharto tetap bertahan bahwa aset kekayaan yang dimilikinya tidaklah
banyak dan semuanya berada di Indonesia. Pengacara top-nya Kaligis
mengatakan bahwa Suharto tidak punya satu sen pun di luar
negeri. “Jika seseorang ketahuan membuka account atas namanya di
luar negeri, dia (Suharto) menginstruksikan saya untuk mengajukan
tuntutan terhadap mereka”, kata Kaligis. Sejak Suharto mengundurkan
diri, Bambang dan keluarganya lebih banyak menggunakan waktu mereka
di Los Angeles, Titik di Boston dimana anak lelakinya bersekolah,
dan sisanya hampir sepanjang tahun berada di Indonesia. Sedangkan
Sigit mempergunakan sebagian besar waktunya di sofa Versace
favoritnya (dimana tak seorangpun diijinkan mendudukinya) , bermain
video game, dan menonton rekaman wayang kulit.

Ghalib mengatakan bahwa Suharto telah memindahkan tujuh yayasan
miliknya dengan aset seharga $ 690 juta ke tangan pemerintah.
Beberapa staff Ghalib menyatakan bahwa walaupun begitu Suharto masih
tetap mengontrol yayasan-yayasan tersebut, dan harga yayasan-yayasan
tersebut sebenarnya jauh lebih mahal.

Reformasi yang masih berlangsung di sektor perbankan tampaknya juga
menolong anggota keluarga Suharto dan associate-nya dalam menutupi
kewajiban untuk membayar hutang-hutang mereka. Oktober tahun lalu,
Pemerintah merencanakan untuk menyatukan 4 bank pemerintah – dengan
total hutangnya (performing loan) sebesar $ 11,5 milyar. Ke enam
anak Suharto dan beberapa perusahaan yang berafiliasi dengan mereka
terdaftar di pemerintah sebagai pemilik hutang (bad debts) sebesar $
800 juta di ke 4 bank tersebut.

Bila jumlahnya diperinci, diantara mereka, Bambang dan Tommy saja
sudah memiliki hutang sebesar $ 635 juta hanya di satu dari empat
bank tersebut, yaitu Bank Bumi Daya. Seorang staf perbankan
malaporkan bahwa laporan-laporan mengenai account mereka sering
dipalsukan, termasuk $ 172 juta yang dipinjamkan ke Hashim
Djojohadikusuma, kakak ipar Titiek, untuk membeli saham di salah
satu bank lain. Meminjam uang untuk membeli saham bank lain di
Indonesia dianggap ilegal. Ketika hal ini ditanyakan, kantor Hashim
menyatakan bahwa dia tidak dapat diwawancarai karena kesibukannya.
Ketika TIME melaporkan hal ini kepada Habibie, presiden ini baru
mulai meneliti hal tersebut.

Penelitian yang sungguh-sungguh atas harta rampasan Suharto mungkin
harus menunggu pemerintah yang baru. Pemilihan wakil-wakil rakyat
yang dijadwalkan tanggal 7 Juni, yang kemudian akan diikuti dengan
pemilihan presiden bulan November, dapat merubah secara mendasar
keseimbangan politik. Dua calon utama presiden; Amien Rais dan
Abdurrahman Wahid mengatakan bahwa mereka akan mengadili Suharto
atau mungkin memberikan pengampunan bila sebelumnya harta tidak
halal keluarga Suharto dikembalikan. Megawati Suukarnoputri, anak
perempuan presiden Sukarno dan juga calon presiden, belum meyatakan
pendapatnya dengan jelas. Beberapa analis berpikir bahwa dia akan
melepaskan Suharto sebagai ucapan terimakasihnya untuk tidak
memenjarakan bapaknya.

Walau bagaimanapun ada kemungkinan anak-anak tersebut akan
diperlakukan lebih buruk. Seorang kenalan keluarga Suharto
mengatakan bahwa selama Suharto masih hidup, dia masih mungkin untuk
melindungi mereka. Tetapi setelah dia pergi, mereka harus melarikan
diri. Tiga dari mereka memiliki rumah di Amerika, sehingga jaksa-
jaksa penuntut disana dapat mengejar mereka dengan Undang-Undang
yang baru yang lebih keras dalam hal korupsi dan pencucian uang.
Sedangkan Bambang yang mengontrol 2 perusahaan Amerika, ternyata
masih dapat diperiksa dengan peraturan praktek korupsi untuk orang
asing (Foreign Corrupt Practices Act). Pengawas korupsi dari
Masyarakat Transparasi Indonesia; bekas menteri keuangan Mar’ie
Muhammad menyatakan bahwa 79 dari 528 keppres yang dikeluarkan sejak
tahun 1993 – Mei 1998 adalah tidak sah. Tetapi Suharto cukup hati-
hati. Keppres-keppres tersebut — yang umumnya dilakukan pada setiap
akhir 5 tahun masa tugasnya, terlebih dahulu telah di setujui oleh
anggota DPR yang sebenarnya tidak banyak berfungsi dan hanya bisa
menyetujui apa saja yang diajukan presiden. Lagipula, menurut
pengacara Suharto, Juan Felix tampubolon, di Indonesia terdapat
aturan mengenai pembatasan dari tindakan semacam itu, “bagi setiap
kejahatan yang dilakukan seseorang, bila ada, sebelum tahun 1981,
maka hak untuk menghukum yang bersangkutan telah habis masa
berlakunya sesuai dengan aturan”. Bagi Suharto, maka jumlah $ 9
milyar di sebuah Bank Austria – akan mencukupi baginya untuk hidup
enak di masa pensiunnya.

DAFTAR KEKAYAAN PUTRA PUTRI SOEHARTO

Nama Kekayaan ($) Perusahaan
Siti Hardiyanti Rukmana “Tutut” 700 juta Citra Lamtoro Gung Group
Bambang Trihatmojo 3 milyar Bimantara Citra
Hutomo Mandala Putra “Tommy” 800 juta Humpuss Group
Sigit Harjoyudanto 800 juta Humpuss Group
Siti Hutami Endang Adiningsih “Mamiek” 30 juta Manggala Krida Yudha
Siti Hediati Hariyadi “Titiek” 75 juta Banyak

Tutut (50 tahun)Anak perempuan tertua Soeharto ini berumur 50 tahun.
Bidang usahanya berada dalam satu group usaha “Citra Lamtoro Gung”
dengan lebih dari 90 perusahaan, dengan beragam jenis usaha mulai
dari telekomunikasi sampai infrastruktur. Termasuk didalamnya jalan
tol di Indonesia dan Filipina. Kekayaan yang lain adalah rumah
dengan 12 kamar tidur seharga $ 1 juta dengan kelengkapan lapangan
tenis dan kolam renang air hangat berlokasi dekat kota Boston. Ada
juga rumah di kota London berlokasi dekat dengan kawasan elit Hyde
Park.Tutut terakhir terlihat di depan publik pada waktu meminta
kenaikan tarif jalan tol kepada DPR.Gaya hidup: Mempunyai ambisi
politik. Pada kabinet terakhir Suharto, dia terpilih sebagai menteri
sosial. Memulai bisnis pada usia 25 tahun, ketika “paman” Liem Sioe
Liong memberinya 14% saham bank BCA (Bank swasta terbesar). Tutut
mengadopsi anak dari Ari Sigit (keponakannya) diluar perkawinan..
Seorang kawan keluarga yang bepergian ke San Francisco bercerita
dengan antusias : “Dia memberi saya tiket untuk pulang ke Jakarta.
Saya masih ingat bau kulit dari tempat duduknya dan parfum mahal
Armani di kamar mandinya”!

Bambang Tri (45 tahun)Menguasai 38% kepemilikan saham dari Bimantara
Citra, salah satu perusahaan konglomerat terbesar dengan 27 anak
perusahaan dan kepemilikan di semua jenis usaha mulai dari minyak
dan gas sampai hotel, telekomunikasi, dan makanan hewan. Kekayaan
yang lain adalah apartemen seharga $ 8,2 juta, perumahan di Los
Angeles seharga $ 12 juta. Seorang pengunjung bercerita bahwa
perumahan tersebut terdiri dari: dua buah rumah, dua buah kolam
renang, lapangan tenis dan lapangan basket. Desain interior di rumah
peristirahatan tersebut sangat memamerkan kekayaan (mewah), lebih
buruk lagi sofanya dilapis dengan kain ala kulit macan.Bambang
terakhir terlihat di suatu tempat dekat Los Angeles.Gaya hidup: Ia
men-transfer uang kas ke luar negri dan membeli saham-saham di pasar
modal international selama beberapa tahun. Tahun 1997, ia mengadakan
kunjungan ke suatu pulau, Curaao (daerah dibawah kontrol negeri
Belanda) untuk menyimpan uang di suatu cabang bank internasional.
Seorang kawan bercerita, Bambang memperhatikan orang-orang yang
memerlukan bantuan, tetapi sesuatu terjadi dalam perjalanan menuju
ke Bank tersebut. “Saya rasa semua orang disekitarnya menjadi kaya
dan dia merasa tertinggal”.

Tommy (36 tahun)Memiliki 60% kepemilikan Humpuss Group yang memiliki
lebih dari 60 anak perusahaan dalam industri yang beragam mulai dari
konstruksi sampai perusahaan farmasi. Kekayaan lain adalah kebun di
Selandia Baru, lapangan golf 18 lubang yang sebagian dia miliki di
Ascot, Inggeris. Bermain golf di tempat itu 2 kali setahun dan
bangga sekali dengan handikap 12-nya.Tommy terakhir terlihat di
pengadilan negeri Jakarta, dimana dia adalah satu-satunya anak
Suharto yang diadili.Gaya hidup: Tommy mengkoleksi mobil balap
(suatu kali disponsori oleh Marlboro). Seperti kakaknya Sigit, Tommy
suka berjudi, tidak berpikir apa-apa walau kalah $1 juta dalam
sekali permainan. Seorang teman berjudi bercerita bahwa Tommy pernah
pergi berjudi ke kasino-kasino di Eropa menggunakan jet pribadinya
dengan membawa uang jutaan dolar. Dalam perjalanan pulang ia mampir
di Singapura guna menyimpan (deposit) sisa uangnya.. Tommy mencintai
uang dan selalu menginginkannya melebihi segalanya. Seorang teman
keluarga bercerita bahwa ia mirip ayahnya, dia sangat sopan dan
kalem.

Sigit (48 tahun)Memiliki 40% saham di perusahaan adiknya (Humpuss
Group) dan partner tidur (tanpa setor modal) di ratusan perusahaan.
Kekayaan lainnya adalah 2 buah rumah di London seharga masing-masing
$ 12 juta. Selain itu ada juga rumah di dekat Jenewa (Swiss) dan di
Los Angeles. Terakhir terlihat pada saat acara keluarga di daerah
Menteng.Gaya hidup: Sigit adalah penjudi yang serius. Seringkali
berjudi rolet dan bakarat di kasino-kasino favoritnya, yaitu The
Ritz London, Atlantic City dan Perth. Seorang partner bisnis
bercerita, ia mengadu untung sebanyak $ 3 juta semalam. Dalam
karirnya ia pernah kalah sebanyak $ 150 juta. Setelah Sigit
mengalami kekalahan yang hebat di Las Vegas pada akhir tahun 1980-an
ayahnya melarangnya untuk berjudi di luar negeri. Bandar judi di
Jakarta kemudian mengorganisir judi bakarat melalui TV kabel. Dalam
permainan ini, menurut seorang kawan, Sigit mengalami kekalahan
sampai $ 20 juta, “Mereka hanya menciptakan kekalahan untuk Sigit”.

Mamiek (34 tahun)Kepemilikan di perusahaan saudara-saudaranya
ditambah dengan usaha di bidang buah-buahan, transportasi dan
telekomunikasi. Pada tahun 1995, Perusahaan miliknya Manggala Krida
Yudha, ditunjuk untuk melaksanakan proyek bernilai $ 500 juta untuk
reklamasi pantai di Jakarta Utara. Kemudian dia men-subkontrak
proyek tersebut kepada perusahaan Hyundai (Korea) senilai $100 juta.
Tapi proyek tersebut di batalkan pemerintah dalam usaha memberantas
korupsi.Kekayaan lainnya adalah, 264 hektar kebun buah di Jawa
Barat.Terakhir terlihat : di kediamannya. Gaya hidup: Mamiek adalah
seorang yang low profile, perokok berat. Terjun ke dunia bisnis
cukup terlambat untuk dapat mengumpulkan banyak uang. Ia dikenal
secara luas sebagai pemilik kebun buah “Mekar Sari” yang berlokasi
di dekat Bogor, dibuat pada tahun 1995 guna mempromosikan riset
mengenai botani.Seorang kawan bercerita, suatu ketika ia menawarkan
bisnis kepada Mamiek untuk bekerja sama. Seminggu kemudian Mamiek
kembali kepada kawannya dan berkata bahwa ia (Mamiek) tidak bisa
mengerjakan bisnis tersebut karena ayahnya (Soeharto) telah
memberikan bisnis tersebut kepada kakaknya Tommy.

Titiek (40 tahun)Kepemilikanny a diantaranya pada perusahaan jasa
keuangan, pembangkit listrik, bank dan properti. Kekayaan lainnya
adalah rumah di salah satu kawasan paling elit, Grosvenor
Square.Terakhir terlihat di Boston, dimana anak lelakinya bersekolah
(SMA). Suaminya Letnan Jendral Prabowo Subianto sekarang berada di
Jordan memimpin bisnis milik Hashim di negara tersebut, di mana
Prabowo adalah juga teman dekat dari Raja Jordan yang baru (King
Abdullah).Gaya hidup: Titiek adalah seorang perokok berat, membenci
anjing. Di Jakarta dia tidur lain kamar dengan suaminya (suaminya
ditemani oleh anjing alsatian-nya) . Kesukaan lain dari Titiek adalah
mengkoleksi barang-barang bermerek “Harry Winston”, “Bulgari”
dan “Cartier”. Seseorang yang menemaninya dalam perjalanan ke Swiss
dan Inggeris bercerita bahwa Titiek adalah seorang yang gemar akan
berlian.Sebagai bekas komisaris dari Yayasan Seni Indonesia
(Indonesian Fine Arts Foundation), Titiek memiliki benda seni
pribadi senilai lebih dari $ 5 juta. Pada tahun 1994, pada pesta
pembukaan restoran dan kafe “Planet Hollywood”, Titiek berkesempatan
berdansa semalaman dengan Steven Seagal”.

RAHASIA PENYELIDIK-KEKAYAAN PROFESIONAL

Oleh: Stephen Vickers

Bila Indonesia berkeinginan serius untuk mencari jejak kekayaan
keluarga Suharto, inilah cara melakukannya. Kesalahan pertama
seorang penyelidik dalam menyelidiki kasus seperti ini adalah dengan
meneliti rekening dan buku kas dari biaya-biaya nyata. Peraturan
utama adalah jangan pernah percaya pada integritas dari setiap
dokumen sampai hal itu dapat diverifikasi secara independen. Hal ini
terutama berlaku bila kita berhubungan dengan kekayaan seorang
pemimpin yang telah sangat lama berkuasa dan sangat kuat., dan yang
mempunyai seluruh aparat pemerintah di belakangnya yang mampu
menyembunyikan tindakan-tindakanny a.

Tahap pertama adalah mengembangkan sebuah strategi. Kami bekerjasama
dengan sebuah tim kecil orang-orang pemerintah untuk menentukan
prioritas dan lingkup kerja. Keamanan kerja haruslah sangat ketat.
Para penjarah kekayaan tidak pernah berhenti memindahkan asset-asset
mereka, atau merubah-rubah perusahaan-perusaha annya, tempat
domisilinya maupun bank-banknya.

Tahap kedua, para penyelidik mulai mengumpulkan dan menganalisis
informasi yang tersedia. Sebuah tim penyelidik dan ahli forensik
rekening meneliti catatan-catatan bank dan pajak, dan
mengidentifikasi berbagai korporasi, saham-saham, dan perusahaan-
perusahaan terdaftar lainnya yang kemudian dipilah-pilah. Tujuannya
adalah menemukan asset-asset nyata yang tidak bisa ditutup-tutupi,
serta mengembangkan dukungan dari berbagai institusi dan perorangan
yang terlibat di dalamnya yang dapat membongkar tabir tersebut.
Perolehan awal terhadap berbagai kekayaan properti dan uang tunai
dapat merupakan titik awal pekerjaan penyelidikan lebih lanjut.

Tahap ketiga adalah mengidentifikasi perorangan-perorang an — siapa
saja mulai dari para supir, para pengacara, sampai ke mitra bisnis
mereka. – yang secara dekat terlibat dengan sasaran kita,
keluarganya, maupun kroni-kroninya. Mencari dengan terinci tagihan-
tahihan telpon, surat-surat fax, catatan-catatan komputer – hal-hal
yang tidak bisa sepenuhnya dihapus oleh mereka – akan dapat
menentukan daftar pokok orang-orang yang mau diajak bicara. Pejabat-
pejabat dari dalam ataupun dari negara-negara lain juga perlu
didekati guna membantu membongkar didapatnya kerahasiaan- bank-bank
lokal yang hanya bisa diperoleh dari hubungan antar pemerintah ke
pemerintah. Dalam kasus penyelidikan Kroll terhadap kekayaan Saddam
Huseein, hasil yang terbesar didapat adalah ketika kami mampu
berhubungan dengan pengacaranya di Swiss, yang ini kemudian merembet
ke Perancis, di mana Saddam mempunyai milyaran dollar dalam bentuk
saham di perusahaan media.

Tahap terakhir, adalah memulai serangkaian likuidasi, aksi-aksi
sipil dan diskusi pendukung guna mendorong terbukanya kerahasiaan.
Dalam hal ini kita mngikuti aksioma sederhana: ikuti uangnya, dan
segalanya akan kelihatan. Apabila tindakan kriminal telah dilakukan
oleh para akuntan atau para pengacara atas nama si sasaran, maka
dibuatlah laporan resmi yang seterusnya akan disampaikan ke pihak
yang berwenang. Laporan-laporan ini juga disampaikan ke perkumpulan
akuntan dan pengacara. Hal ini akan dapat memaksa para profesional
tersebut untuk bekerjasama.

Dalam kasus keluarga Suharto, penyelidikan dapat berlangsung mulai
dari satu hingga dua tahun. Kami telah merekomendasikan sebuah tim
yang terdiri dari lima penyelidik, lima manajer kasus, 15 sampai 20
akuntan, lima pengacara, dan tim lapangan internasional yang terdiri
dari 100 orang yang dapat dipanggil kapan saja bila diperlukan. Kami
akan menggunakan software analis intelijen, sebuah kit pembongkar
enkripsi, sebuah kit `computer memory recovery’, dan laboratorium
forensik. Meskipun demikian, asset paling pokok dari pekerjaan ini
adalah orang-orang Indonesia sendiri, baik yang berada di dalam
negeri maupun yang tinggal di luar. Bila mereka mencarinya, maka
pasti dapat ditemukan. ***Stephen Vickers adalah executive managing
director Kroll Associates di Asia, yang telah menyelidiki berbagai
asset Jean-Claude Duvalier dari Haiti, Ferdinand Marcos dari
Filipina, dan presiden-presidan penjarah lainnya.

DESPOT-DESPOT KAYA:

DIMANA RANGKING SUHARTO DI DALAM SEJARAH?

Diktator Filipina Ferdinand Marcos, tersingkir tahun 1986, menjarah
sekitar $ 10 milyar

Haile Selassie, raja dari Ethiopia, tersingkir tahun 1974, menjarah
sekitar $ 2 milyar

Dengan kekayaannya yang berlimpah, Suharto & Co. masih menguasai
sekitar $ 15 milyar

Mobutu Sese Seko dari Zaire mencoba menjarah $ 5 milyar sebelum
kemudian dijatuhkan tahun 1997

BABY DOCKetika ia jatuh dari kekuasaannya di tahun 1986, Jean-Claude
Duvalier dari Haiti mengantungi sekitar $ 500 juta.


One response to “Suharto dan Pembangunan Ekonomi Cendana

  1. Nama saya Suharto juga. Saya adalah seorang Guru di Sekolah Muhammadiyah, dengan kehidupan yang relatif Sederhana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s